Sabtu, 04 Juli 2015

Salakanagara, Kerajaan Pertama di Nusantara



Dalam sejarah Indonesia pada umumnya, Indonesia dikenal memiliki pengaruh yang kuat dari agama Hindu. Hal ini mengingat banyaknya bukti terungkap seperti prasasti atau situs yang menunjukkan kebenaran itu. Oleh sebab itu, negeri Indonesia pun disebut sebagai negeri Hindu.

Mengetahui adanya anggapan itu, Budayawan sekaligus Sejarawan Indonesia, Ridwan Saidi mengaku tidak setuju. Dia dengan tegas membantah penyebutan dalam sejarah Indonesia tersebut. “Itu fitnah!” ujar Ridwan saat Seminar Nasional bertemakan ‘Menelusuri Indikasi Pengaburan Sejarah Islam Nusantara’ di UIN Jakarta pekan lalu.

Ada hal yang mengagetkan bagi sebagian besar masyarakat awam dari hal yang diungkapkan Ridwan Saidi saat seminar nasional di UIN Jakarta. Ketika itu pria yang berambut putih ini mengungkapkan, Kerajaan Tarumanegara bukanlah kerajaan pertama di Pulau Jawa.  Menurutnya, penetapan kerajaan ini sebagai kerajaan pertama di Pulau Jawa yang berada ada di buku-buku sejarah selama ini merupakan kekeliruan.

Kekeliruan penentuan kerajaan pertama ini tidak lepas dari perebutan pencaturan sejarah Indonesia. Semua ini memang bermula dari kebijakan kolonialisme Belanda. Ketika itu Kolonialisme yang telah berkuasa di Nusantara dengan tegas  membuat sistem penulisan sejarah yang merugikan Islam.

Sebagian peneliti sejarah Indonesia menyebutkan, upaya peniadaan peran Islam dalam sejarah Indonesia dilakukan Belanda karena respon perlawanan yang mereka lakukan. Di masa itu, pribumi beserta raja-raja Islam lah yang dengan tanpa rasa takut melawan Belanda.

Hal ini jelas berbeda dengan kerajaan Hindu dan Budha yang besar dan notabenenya sempat berkuasa di awal abad 16. Ketika itu kerajaan Hindu dan Budha tidak memberikan respon penolakan atau perlawanan terhadap kedatangan dan keinginan penguasaan nusantara. Oleh sebab itu, pemerintah Belanda pun membuat sistem penulisan yang lebih menekankan kepada peran kerajaan Hindu dan Budha dibandingkan dengan Islam.

“Kondisi kekeliruan dan penyimpangan sejarah ini semakin kuat setelah  ditunjang dengan bukti kurang tepat yang disodorkan para arkeolog,” ujar Ridwan. Padahal, lanjutnya, hal ini merupakan kesalahan fatal yang jelas berimbas pada pengetahuan rakyat dan generasi penerus bangsa saat ini.

Menurut Ridwan, prasasti-prasasti yang ditemukan di sejumlah wilayah yang menegaskan adanya kerajaan Tarumanegara merupakan hal yang keliru. Penyebabnya, sebagian besar prasasti yang tertulis hanya berisi tentang pengisahan raja-raja Tarumanegara. Dia menegaskan, tidak ada satu prasasti pun yang berisi tentang perkataan raja Tarumangera terutama Mulawarman.

Salah satu prasasti yang hanya mengisahkan tentang raja Tarumanegara, yakni Prasasti Jambu. Prasasti ini hanya menjelaskan ihwal raja Purnawarman yang memerintah di negara Taruma kala itu. Tidak ada perkataan raja Tarumanegara yang menegaskan dirinya pernah menguasai bahkan menginjakkan kakinya di wilayah tersebut.

Dengan banyaknya prasasti yang ditemukan banyak arkeolog, menurut Ridwan, itu menjadi suatu hal yang wajar. Hal ini berkenaan dengan kondisi Nusantara yang menjadi pusat perdagangan di masa lampau.

Karena kondisi perdagangan nusantara besar, maka menjadi hal yang wajar jika banyak ditemukan peninggalan-peninggalan seperti prasasti-prasasti. Sebab, prasasti-prasasti itu bisa saja ditulis oleh orang-orang yang sedang berkelana di tanah nusantara yang kemudian merindukan atau ingin menceritakan kerajaan di tempat asalnya.

Ada hal lain yang juga cukup mengagetkan yang pernah dinyatakan Ridwan Saidi mengenai Islam di Nusantara. Menurutnya, Indonesia atau bumi Nusantara ini sebenarnya sudah bertauhid sejak abad ketiga. Hal ini terbukti dengan pengucapan nama ‘Tuhan’ yang biasa dituturkan oleh masyarakat. Misal, ungkapnya, ucapan ‘Gusti’, ‘Yang di Atas’ dan sebagainya. Ucapan-ucapan diyakini bukan cirri khas dari agama Hindu maupun Budha.

Karena Budayawan Betawi ini tidak menganggap Tarumegara sebagai kerajaan pertama di Pulau Jawa, dia pun pada akhirnya menyebut nama kerajaan lain. Nama kerajaan yang diucapkannya kala itu terasa asing bagi masyarakat Indonesia yang awam akan sejarah Indonesia. “Salakanagara,” ucapnya dengan lantang. Menurutnya, kerajaan inilah yang sebenarnya pertama kali berdiri di Pulau Jawa atau bahkan di Nusantara.
Berdasarkan dari berbagai sumber,  Naskah Wangsakerta - Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara yang disusun Pangeran Wangsakerta menyebutkan Salakanagara sebagai kerajaan pertama  di Nusantara. Satu hal lagi yang terpenting dari naskah itu, yakni Kerajaan Salakanagara yang diyakini telah berdiri sejak awal abad masehi hingga sekitar 300 M.

Lokasi kerajaan Salakanagara diungkapkan berada di wilayah Sunda, sekitar Pandeglang dan Bekasi. Situs-situsnya sendiri tersebar di wilayah Banten dan Jawa Barat seperti Ujung Kulon, Pulosari dan sebagainya.

Bukti-bukti sejarah peninggalan Salakanagara sendiri terdiri dari menhir, dolmen, batu magnit dan batu dakon. Selain itu, adapula peninggalan yang berupa Air Terjun Curug Putri dan Pemandian Prabu Angling Dharma .

Mengenai bukti peninggalam Salakanagara yang berbentuk menhir, peninggalan ini dapat ditemui di Pulosari, Pandeglang. Masyarakat setempat memiliki tradisi sendiri dalam memandang mender Cihunjuran ini. Merekaa biasanya selalu menghubungkan batu ini sebagai tempat Maulana Hasanuddin menyabung ayam.

 Selain itu, bukti peninggalan Salakanagar yang berupa dolmen terletak di kampung Batu Ranjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Sedangkan batu magnit berada di puncak Gunung Pulosari, Rincik Manik, Desa Saketi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang.

Sementara itu, peninggalan Salakanagara yang berbentuk batu dakon berlokasi di Kecamatan Mandalawangi, tepatnya di situs Cihunjuran. Kemudian untuk Air Terjun Curug Putri sendiri terletak di lereng Gunung Pulosari Kabupaten Pandeglang.

Untuk pemandian Prabu Angling Dharma sendiri terletak di situs Cihunjuran Kabupaten Pandeglang. Menurut cerita rakyat, pemandian ini diyakini pernah digunakan oleh pendiri Kerajaan Salakanagara, yakni Aki Tirem  untuk membersihkan diri.


Pendiri dari kerajaan Salakanagara ini bernama Aki Tirem Luhur Mulia. Bahkan, pendiri ini disebut-sebut dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Angling Dharma. Mengenai hal ini, Ridwan Saidi belum bisa memastikan pendiri tersebut memiliki keterkaitan dengan nama serupa yang berada di kerajaan wilayah Jawa Timur.

Ada nama lain yang serung disematkan kepada Aki Tirem Luhur dari masyarakat. Selain dipanggil Angling Dharma, dia juga sering disebut sebagai Wali Jangkung. Penyebutan nama inilah yang menjadi  pertanyaan akan kebenaran nama-nama tersebut.

Pertanyaan keberadaan atau penyebutan nama Aki Tirem ini tidak hanya berkutat pada nama ‘Angling Dharma’. Nama Wali Jangkung juga menjadi pusat perhatian dan banyak pertanyaan dari masyarakat terutama para ahli dan pengamat sejarah Islam di Nusantara ini.

Seperti yang diketahui, sebutan wali biasa digunakan hanya untuk orang-orang yang memeluk agama Islam.  Sebutan ini biasa dikaitkan dengan tokoh-tokoh penyebar agama Islam semisal walisongo.

Selain itu, ritual-ritual yang dijalankan oleh masyarakat setempat terhadap situs kerajaan Salakanagara juga menjadi pertanyaan besar akan agama yang dianut Aki Tirem Mulia. Sebab, orang-orang yang mengunjungi makam  Aki Tirem Luhur Mulia biasa menggunakan tata cara Islam ketika berziarah. Yakni, dengan dimulai dari berwudhu yang kemudian dilanjutkan dengan bacaan-bacaan doa secara Islam.


Terkait Kerajaan Salakanagara, Ridwan menduga kuat bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan islam. Penyebabnya, dia mengaku pernah melihat ornamen-ornamen yang tertera di pahatan situs kerajaan ini. Anehnya, Ridwan mengungkapkan dirinya tidak menemukan corak India di bebatuan itu. Menurutnya, corak-corak tersebut terlihat lebih mirip dengan konsep Timur Tengah.

Dengan adanya penemuan ini, maka bisa diyakini bahwa Islam memang sudah masuk ke negeri Indonesia sebelum abad ke-13. Penentuan abad ini sendiri diungkapkan dalam buku-buku sejarah Indonesia yang dipelajari di sekolah-sekolah. Buku-buku tersebut jelas menyebutkan, Islam berkembang di Indonesia pada abad ke-13.

“Mungkin Islam memang berkembang di abad itu, tapi ini bukan berarti Islam baru ada di zaman itu,” jelas Ridwan.

Penemuan situs Kerajaan Salakanagara ini juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki pengaruh Islam dan kebudayaan Timur Tengah yang kuat.  Salakanagara juga telah mampu mematahkan dongeng sejarah Indonesia yang menyebutkan Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan Hindu pertama di Indonesia. Hal ini jelas berarti kerajaan yang pertama kali berdiri di Indonesia itu Islam, yakni Salakanagara.

Dalam berbagai sumber disebutkan bahwa raja pertama kerajaan tersebut bernama Dewawarman. Dewawarman sendiri merupakan duta dari Kerajaan India yang diutus ke Nusantara, yakni Pulau Jawa. Setelah sekian lama berkelana di Jawa, dia pun dinikahkan oleh Aki Tirem Luhur Mulia dengan Putrinya yang bernama Larasati Sri Pohaci.

Karena telah menjadi menantu Aki Tirem Luhur Mulia, Dewawarman pun diangkat menjadi raja pertama yang memegang kekuasaan Kerajaan Salakanagara. Raja Dewawarman I ini sendiri memiliki sebutan  Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara.

Dengan terungkapnya Kerajaan Salakanagara ini diharapkan masyarakat Indonesia menyadari benar mengenai peran Islam dalam membentuk peradaban di bumi Indonesia ini. Selain itu, kesadaran pemerintah untuk merevisi ulang semua buku Sejarah Indonesia sangat perlu dilakukan sesegera mungkin. Hal ini dilakukan agar generasi bangsa ini tidak mengalami penyimpangan dalam menguasai ilmu sejarah Nusantara Indonesia.

Ridwan juga menilai bahwa banyak arkeolog yang selama ini dianggap berperan dalam membuka sejarah Indonesia itu ternyata memiliki pengetahuan yang kurang baik. Bahkan dia menyebutkan dengan tegas para arkeolog tersebut merupakan penyesat bangsa Indonesia. “Mereka sesat karena telah membodohi bangsa Indonesia,” tutupnya.


wilda fizriyani

Dengan Menulis, Hati Terasa Ringan

Dengan Menulis, Hati Terasa Ringan

Menulis, salah satu kegiatan yang menurut saya cukup mengasyikan. Dengan menulis, segala yang tertanam dalam pikiran dan hati bisa tersampaikan dengan baik. Karena dengan menulis, orang seperti saya yang bisa disebut tak pandai bicara ini mampu mengungkapkan hal yang saya rasa.
Ada sebuah kenikmatan tersendiri dari menulis. Menulis memang tidak bisa memberikan jalan keluar. Namun setidaknya hati bisa terasa ringan.

Kondisi itu hampir serupa dengan tersenyum. Senyuman memang tidak bisa menyelesaikan masalah. Namun setidaknya, kita merasa tenang walau sesaat meski di tengah gempuran masalah yang menerpa hidup kita. Karena itulah, mari budayakan menulis!! :-)


Menulis membawa saya ke dalam dunia jurnalis
Awalnya, saya tidak pernah berpikir sama sekali untuk bisa mnjadi seorang jurnalis; wartawan atau reporter. Mereka terasa asing dan sulit saya pahami.

Saya selalu berpikir menjadi jurnalis itu rumit. Dalam pandangan saya,  jurnalis adalah orang-orang yang bodoh. Ya, mereka bodoh karena mereka rela terjun ke lapangan, berpanas-panasan, harus basahan-basahan, bahkan harus rela terluka demi mendapatkan suatu berita. Ditambah lagi mereka harus menulis tugas berita yang seabrek di koran. Saya benar-benar tidak minat kala itu dengan yang namanya jurnalis.

Ketika hendak memilih jurusan, sempat terbesit untuk bisa masuk ke jurnalistik. Akan tetapi, pilihan itu saya gagalkan. Saya lebih memilih dunia pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Suatu program yang saya pikir sesuai dengan kemampuan saya.

Kenapa saya memilih jurusan itu?
Ada banyak alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, saya sangat tertarik dunia keguruan. Ya, pokoknya dengan dunia mengajarnya. Pasalnya, waktu di masa Madrasah Aliyah (MA), saya sempat mengajar TPA sekitar 1 hingga 2 tahun. Saya merasa terpanggil. Saya merasa ada kebahagiaan sendiri apabila mengajar.

Selain bisa mengamalkan ilmu, entah mengapa saya selalu merasa terhibur acapkali melihat wajah-wajah polos murid saya di saat TPA. Semua masalah  dan kepenatan hilang sudah jika melihat mereka.

Alasan kedua, karena bakat menulis puisi. Jujur saja, penilaian bakat itu bukan muncul dari saya pribadi. Pendapat itu muncul dari sahabat-sahabat dan teman sekelas saya. Mereka adalah para pembaca setia puisi saya. Hahaha… lebih tepatnya, kalau ada tugas menulis puisi, mereka akan lari ke saya wkwkw.

Karena ada bakat menulis puisi dan drama, jadilan saya didorong teman-teman untuk masuk sastra. Atas dasar itu, saya pun memutuskan memilih program pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di UIN Jakarta.

Semester demi semester terus saya jalani. Hingga pada akhirnya, saya bertemu salah satu dosen di mata kuliah Menulis Lanjut. Pada masa inilah di mana saya berjumpa dengan namanya menulis berita atau dunia jurnalistik.

Selama satu semester saya dilatih oleh dosen idola saya ini perihal menulis dalam dunia jurnalistik. Entah mengapa saya mulai merasa tertarik dengan dunia ini. Ketertarikan saya tampak semakin menguat setelah dosen saya  mengajak angkatan saya untuk terlibat dalam tulisan majalah Jurnal Wisuda UIN Jakarta.

Majalah Jurnal Wisuda ini sebenarnya milik rektor UIN secara langsung. Artinya, editor, pemred dan keuangan diperoleh dari direktorat. Majalah ini sendiri terbit setiap wisuda dengan tema ke-UIN-an pastinya.. J Di momen inilah, kemampuan menulis saya semakin digenjot. Dan di saat itulah kecintaan saya dalam menulis ficer dan berita semakin menguat.

Bagaimana saya bisa masuk ke dunia media massa?
Sebelum saya jadi wartawan di salah satu media di Indonesia, saya adalah guru. Saya sempat jadi guru TPA selama dua tahun ketika masa Aliyah. Kemudian, kegiatan mengajar saya berlanjut dari semester tiga hingga tujuh di salah satu SMP wilayah Tangerang Selatan. Selanjutnya, saya sempat menjadi guru bahasa Indonesia pula di tempat saya sekolah sebelumnya, MAN Serpong.

Saat masa skripsi, seluruh kegiatan organisasi dan mengajar saya hentikan. Saya benar-benar ingin fokus. Namun kefokusan saya sempat melipir akibat broadcast whatsapp dari sahabat saya di grup.

Sahabat saya mengirim adanya lowongan kerja sebagai reporter di salah satu media. Ada begitu banyak persayaratan yang diajukan pada tulisan itu. Salah satunya, yakni S1 dan fasih bahasa Inggris.

Ketika membacanya, saya masih ragu kala itu. Namun rasa ragu itu entah mengapa semakin memupus dari waktu ke waktu. Dan hingga pada akhirnya, saya memutuskan untuk mengajukan lamaran dengan modal IPK, bukna ijazah S1. Jujur saya, saya coba-coba saat itu. Saya tidak terlalu banyak berharap (saya tahu dirilah hehe)

Karena tidak terlalu berharap, saya pun sempat terlupa dengan lamaran itu. Saya pun kembali ke dunia skripsi saya yang ketika itu tinggal selangkah lagi.  Menjelang akhir masa revisi skripsi, saya pun mendapat sebuah SMS dari pihak redaksi media tersebut.

“Saya diterima dan diminta untuk wawancara,” begitulah tulisannya. Bukannya bahagia yang saya rasakan ketika itu. Saya lebih merasa bingung. Kok bisa ya saya diterima? Kan saya belum S1! Hmmmm…. Meski bertanya-tanya, pada akhirnya saya pun mendatangi tempat media itu untuk diwawancara hahaha… Tekad ini semakin kuat setelah ada dukungan dari orangtua terutama ayah dan sahabat saya.

Ada sedikit cerita tentang takdir saya yang berhasil menempatkan diri di media itu dan ayah saya. Salah satu mengapa ayah mendukung saya bekerja sebagai wartawan, karena jelas ada latar belakang di balik itu semua.

Selagi muda, ayah saya merupakan pembaca setia koran itu. Bahkan, dia acapkali mengirim puisi ke media itu dan selalu diterbitka. Selain itu, ayah juga memiliki kenalan dengan wartawan (sekarang redaktur) di tempat itu.

Nah, jika melihat kondisi demikian, saya rasa tidak ada yang kebetulan di dunia ini.  Takdir hidup itu seperti tali yang saling menyambung satu sama lain. Ya, itu terbukti dengan takdir yang mempertemukan saya dengan dunia jurnalistik di media itu. Antara kehidupan ayah di kala muda dengan kondisi saya saat ini ternyata ada keterkaitannya.

 Atau, mungkinkah ada takdir-takdir lainnya di balik semua ini yang belum terungkapkan? Hmmm… kita tunggu saja, kawan! Hehe…


Wilda fizriyani-reporter Republika

Senin, 08 Desember 2014

Islam di Benua Amerika (1)

Nama negara Kuba berasal dari bahasa Arab, al-Qubbah....

Dalam jurnalnya, Columbus pernah bercerita tentang perjalanan pelayaranannya. Ketika ia berlayar sekitar semenanjung timur Kuba di Selat Gilbartar, ia melihat sebuah kubah masjid di pegunungan.

Menurunya, kubah itu sama dngan kubah yang berada di negerinya, Spanyol.

Pengaruh Islam Untuk Dunia

sedikit berbagi..

Saat ini saya sedang membaca sebuah buku. Buku tersebut mampu membuat saya tercengang dengan isinya.

Saya tidak tahu informasi ini akan membuat kalian juga tercengang. Kalau sudah tahu, anggap saja saya adalah orang yang minim pengetahuan.

Sebelumnya, apa kalian tahu Abraham Lincoln? Atau presiden AS ketiga, Jefferson? atau mungkin Anda mengetahui tentang koloni Melungeon? Atau mungkinkan kalian mengetahui bahwa Columbus bukan penemu benua Amerika? Mungkinkan kalian juga mengetahui bahwa sebenarnya penemu benua Amerika itu umat islam?

Saya tidak tahu harus memulai dari mana penulisan ini. .. jadi, biarkan ketikan ini bergulir dengan sendirinya.

Pada 1492, Columbus sempat mengira dia terdampar di India yang kita ketahui sekarang sebagai Amerika. Ia sempat menganggap tanah itu tak bertuan. Namun ternyata perkiraannya salah. Tanah itu sudah dihuni oleh orang-orang bertubuh tegap dan berjubah, berhidung mancung dan berkulit merah.
Suku Indian... Sebutan inilah yang dicetuskann oleh Columbus. Columbus memberi nama tersebut karena postur mereka mirip orang India. Atau mungkin dia masih mengira orang-orang tersebut adalah orang India? Entahlah...

Sampai saat ini, banyak perdebatan tentang asal muasal si kulit merah tersebut.

Namun ada sebuah penemuan yang menggemparkan dari sebuah prasasti yang ditulis dalam bahasa Cina akhir abad 12. Prarsasti itu menyebutkan, musafir-musafir muslim dari tanah Cina, Eropa dan Afrika telah berlayar jauh sampai Amerika.Tiga ratus sebelum Columbus meenginjakkan kakinya di benua tersebut.

Dan Columbus berhasil menemukan benua ini karena bantuan kaum Morisco. Apa kalian tahu siapa itu Morisco?

Morisco merupakan umat Muslim yang terusir dari tanah Andalusia di era Ratu Isabella. Columbus pun dibiayai oleh Ratu Isabela untuk melakukan sebuah ekspedisi. Eksepedisi ini termasuk pengejaran kaum Morisco. Nasib pengejaran inilah yang membawa Columbus tiba di Benua Amerika.

Orang-orang Moor atau Morisco ini memiliki nasib yang sangat malang. Terusir dari Andalusia, mereka pun bertebaran kemana-mana. Hingga akhirnya, beberapa mereka terdampar di Amerika.
Mereka pun mulai berbaur dengan masyarakat setempat. Ada yang menikah dengan pendatang Eropa, orang Indian, maupun para budak Afrika.

Mereka pun mulai membuat sebuah koloni di tanah Amerika. Koloni ini salah satunya disebut Melungeon. dan salah satu tokoh terkenal yang masuk ke dalam keturunan koloni ini adalah ---- ABARAHAM LINCOLN

Kamis, 05 Desember 2013

ABOUT SUPER JUNIOR (picture;photos) :)


chingudeul!!!!! annyeonghaseyo.... kali ini gue mau bagi2 foto oppadeul, khususnya Donghae n siwon :)


ya ampunnn!!!! subhanallah!!! ini dia foto abang ikan yg menurut gue sesuatu (bikin w meleleh)

nah, ada yg tau ini dimana??? ini di indonesia (Jakaarta)... kalo gak salah, mereka berdua mau datang ke acara pembukaan lotte mart esoknya. (kecewa karena fan meetingnya cuma berjalan 5 menit gara2 chaos -__-)
ni ada foto2nya!

gue waktu itu paling belakang huft (loncat2 ga jelas) :( n ni foto2 w dpt dr fb. tks bgt deh sama foto2nya.

hae cute :)
umur 'kolot' tapi wajah(?).. satu kata *still young oppadeul :D
woahhhh!!! our baby oppa? *oopss #dihajar ELFISH :D

nah, ini foto yg bikin ELFISH nangie kejer *trmasuk w (foto Hae & alm appanya) :(
foto gilanya oppadeul pas liburan di Hawai hhhhaaa... udh liat videonya kn?

our heroooo... :D yg depan siapa tuh? *kenalan dnk!#plakkk
n then... siwon, first love w di SJ (si kuda ini) :D, jujur aja w lbh suka wonppa yg dulu, yg kyk foto d bawah ini... jd, maafkn aku siwon oppa harus menggesermu di hatiku oleh posisi si bang Ikan :p (tp tetp fans ko)


 gak tahu knapa kalo liat cowok pakai kmeja putih itu bikin mata w teralihkan *asikkk (tergantung cowoknya jga sih :D) n apalagi digulung sampai sikut gt (liat MV Super Girl, kmejanya siwon), bikin w teriak ga jelas... hhhha

finally, my husband *plakkkk, dihajar ELF
liat foto ini, gmna reaksinya ELFISH???? *kalo gue (mau mimisan kayaknya) hhe

oke sekian dlu deh pagenya, nanti sambung lagi
oiya jgn lupa follow @wildafiz (mention kalo mau difollback)

RPP bahasa Indonesia SMP



RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Satuan Pendidikan        : SMP/MTs
Kelas/semester             : IX/2
Mata Pelajaran             : Bahasa Indonesia
Topik                           : Penceritaan Tokoh Idola
Jumlah Pertemuan         : 1 x Pertemuan

A.     Kompetensi Inti
-         Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman melalui kegiatan menanggapi cerita dan telepon.

B.     Kompetensi Dasar
-         Menceritakan tokoh idola dengan mengemukakan identitas tokoh, keuggulan, dan alasan mengidolakannya dengan pilihan kata yang sesuai.

C.     Indikator Pencapaian Kompetensi
-         Memahami identitas tokoh idola
-         Memahami keunggulan tokoh idola dengan baik
-         Menceritakan tokoh idola dengan kata yang sesuai dengan usia siswa.

D.    Tujuan Pembelajaran
-         Siswa dapat memahami identitas dengan baik
-         Siswa dapat memahami keunggulan tokoh idola
-         Siswa dapat menceritakan tokoh idola dengan kata yang sesuai dengan usia siswa.

E.     Materi Pembelajaran
-         Penceritaan tokoh idola

F.      Alokasi waktu
2 x 40 Menit

G.    Metode Pembelajaran
Tanya jawab, inkuiri, demonstrasi, diskusi kelompok, kuis dan penugasan

H.    Kegiatan Pembelajaran
KEGIATAN
DESKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI WAKTU
PENDAHULUAN
1.      Mengajak semua siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing (untuk mengawali kegiatan pembelajaran)
2.      Untuk membangkitkan fokus siswa, guru memberikan ice breaking
3.      Melakukan komunikasi tentang kehadiran
4.      Guru mereview sekilas materi sebelumnya
5.      Guru menanyakan kesiapan siswa mengenai materi yang akan diajarkan (Guru sebelumnya sudah memberitahu siswa untuk mempelajari materi tentang tokoh idola)
6.      Siswa menerima informasi mengenai tujuan dan pembahasan sekilas dari pembelajaran tersebut
20 Menit
KEGIATAN INTI
Eksplorasi
1.        Guru menampilkan tokoh-tokoh idola yang diketahui secara umum dalam power point.
2.        Siswa menanggapi tampilan tersebut dengan menyebutkan satu per satu tokoh yang ditampilkan.


Elaborasi
3.        Guru meminta satu orang siswa untuk menceritakan tokoh idola dari salah satu gambar yang ditampilkan dalam power point dengan menjelaskan hal-hal yang perlu diungkapkan siswa mengenai tokoh idola.
4.        Siswa lain diberi kesempatan untuk menanggapi gaya penceritaan siswa yang mendapatkan tugas bercerita tersebut.
5.        Guru mengapresiasi siswa yang memberikan tanggapan dan yang mendapatkan tugas untuk bercerita di depan.
6.        Guru mengadakan kuis yang masih berkaitan dengan gambar-gambar yang sudah ditampilkan (metode seperti ‘kocokan’)
7.        Siswa yang terpilih maju ke depan untuk menjawab dari deskripsi yang disampaikan guru mengenai tokoh idola yang sebelumnya ditampilkan
8.        Guru memberi kesempatan siswa lain untuk menjawab pertanyaan yang mungkin tidak bisa dijawab oleh siswa yang terpilih itu
9.        Siswa menerima poin tambahan bagi yang bisa menjawab deskripsi pertanyaan guru.



Konfirmasi
10.  Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai tokoh idola
11.  Siswa mendengarkan jawaban guru atas pertanyaan yang mereka ajukan
12.  Guru meminta siswa untuk menyimpulkan materi tentang penceritaan tokoh idola
13.  Guru mengkonfirmasi pendapat siswa mengenai kesimpulan materi.

45 menit
PENUTUP
1.      Guru menginformasikan siswa tentang tugas yang berkaitan dengan tokoh idola
2.      Siswa menyimak informasi mengenai pembelajaran selanjutnya
3.      Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan hamdalah dan salam.
15 Menit

I.       Penilaian Proses dan Hasil Belajar
a.    Penilaian Proses
No
Aspek yang dinilai
Teknik Penilaian
Waktu Penilaian
Instrumen Penilaian
Keterangan
1.
Tanggung jawab
Pengamatan
Proses
Lembar Pengamatan

2.
Kritis
3.
Responsif
4.
Komunikatif
5.
Santun
6.
Pelafalan
7.
Intonasi
8.
Jujur
9.
Percaya Diri
10.
Mandiri





b.    Penilaian Hasil
Indikator
Pencapaian Kompetensi
Teknik Penilaian
Bentuk Penilaian
Instrumen
Memahami identitas tokoh idola

Tes tertulis
Tes uraian
1.      Bacalah dengan saksama teks tokoh idola berikut! Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!
Memahami keunggulan tokoh idola dengan baik

Tes tertulis

Tes uraian


2.      Identifikasikanlah dan jelaskan keunggulan dari tokoh tersebut!
Menceritakan tokoh idola dengan kata yang sesuai
Tes tertulis

Tes uraian


3.      Ceritakanlah tokoh idola yang kamu sukai dengan kalimat yang tepat!

J.      Sumber Belajar
-         LKS Wajar
-         Anindriyani, Atikah dkk. Bahasa Indonesia: Untuk SMP/MTS kelas VII. Jakarta: Pusat Pembukuan, Departemen Pendidikan Nasional. 2008.
-         Internet (unduhan gambar).


Jakarta, 6 November 2013
Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia




Wilda Fizriyani


Lampiran
Lembar Pengamatan
LEMBAR PENGAMATAN  SIKAP
Mata Pelajaran  :..................................................................................................
Kelas/Semester:....................................................................................................
Tahun Ajaran     :....................................................................................................
Waktu Pengamatan: ............................................................................................
Sikap  yang diintegrasikan dan dikembangkan adalah perilaku religius, jujur, tanggung jawab, dan santun.
Indikator perkembangan sikap perilaku religius, jujur, tanggung jawab, dan santun.
1.       BT (belum tampak) jika sama sekali tidak menunjukkan usaha sungguh-sungguh  dalam menyelesaikan tugas
2.       MT (mulai tampak) jika menunjukkan sudah ada  usaha sungguh-sungguh  dalam menyelesaikan tugas tetapi masih sedikit dan belum ajeg/konsisten
3.       MB (mulai berkembang) jika menunjukkan ada  usaha sungguh-sungguh  dalam menyelesaikan tugas yang  cukup sering dan mulai ajeg/konsisten
4.       MK (membudaya) jika menunjukkan adanya  usaha sungguh-sungguh  dalam menyelesaikan tugas secara terus-menerus dan ajeg/konsisten.
Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.
No.
Nama Siswa
Kritis
Responsif
Komunikatif
Santun
BT
MT
MB
MK
BT
MT
MB
MK
BT
MT
MB
MK
BT
MT
MB
MK
1.

















2.

















3.

















4.

















5.

















..